Menjadi Perempuan Paling Berbahagia

Diposting oleh Unknown on Rabu, 20 Januari 2016

Kebahagiaan, sangat terkait dengan visi hidup seseorang. Jika visi dia ada materi, maka kebahagiaan baginya adalah ketika ia berhasil menghimpun kekayaan sebanyak-banyaknya. Jika visi dia adalah masalah gebyar penampilan, kebahagiaan baginya adalah ketika berhasil menjadi diva yang dipuja-puja manusia. Atau, jika visi seseorang adalah kekuasaan, maka puncak kebahagiaan adalah ketika ia berhasil menduduki singgasana kepemimpinan tertinggi suatu negara. Jadi, kebahagiaan itu relatif, dan bermacam-macam bentuknya.

Namun, kebahagiaan seorang Muslim, tentu saja berbeda. Visi seorang Muslim mendapatkan keridhaan Allah sehingga di akhirat kelak, kita akan ditempatkan di surga yang tinggi. Untuk itu, misi hidup seorang Muslim adalah hidup dalam kemuliaan (Islam), ataupun jika harus mati, maka matinya adalah khusnul khatimah, atau bahkan kesyahidan.

Allah berfirman:
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan di dunia itu tak lain hanya kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185).

PRINSIPNYA ADALAH KESEIMBANGAN

Prinsip dari kebahagiaan, tentu saja adalah keseimbangan. Demikian juga dengan kebahagiaan yang bervisi akhirat. Kita akan mendapatkannya jika memiliki keseimbangan di dalam berbagai aktivitas kita. Apa saja poin-poin keseimbangan itu?

Salimul ‘Aqidah (Akidah yang selamat)
Akidah yang selamat, terbebas dari kesyirikan, adalah pondasi yang terpenting dari kebahagiaan. Karena prinsip seseorang diciptakan di muka bumi adalah untuk beribadah, di mana ibadah akan tertolak jika belum total ditujukan kepada Allah SWT.
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam agama yang lurus...” (QS Al-Bayyinah: 5).

Shahihul Ibadah
Ibadah yang shahih juga merupakan kunci pengabdian kita kepada Allah. Bentuk ibadah sendiri terdiri dari ibadah secara khusus (shalat, puasa, zakat, haji) atau secara umum (muamalah).

Matinul Khuluq
Akhlak adalah cerminan dari kekuatan akidah dan ibadah seorang Muslim, karena akhlak merupakan reaksi yang muncul secara spontan. Dan Muhammad, tidaklah diutus ke muka bumi ini, melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia.

Qadirun ‘alal Kasbi
Bentuk yang paling jelas dari qadirun alal kasbi adalah bekerja dan berpenghasilan, serta memiliki spesialisasi langka yang penting dan dinamis. Maka, bergeraklah untuk bisa menajamkan potensi yang kita miliki, karena dengan optimalisasi potensi, maka kita akan banyak melakukan hal-hal penting dalam hidup ini.

Mutsaqaful Fikr
Wawasan yang luas, ketajaman pikiran, memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan seseorang. Apalagi, aktivitas keilmuan, merupakan hal yang sangat asasi dalam kehidupan beragama. Ayat Al Quran yang turun pertama kali adalah Iqra’, karena dengan membaca, kunci pengetahuan telah terbuka lebar. Imam Syafi’i membuat tahapan bagi seseorang dalam menjalankan agama, yaitu ILMU, AMAL, DAKWAH dan SABAR. Dengan demikian, seseorang tidak akan bisa sempurna dalam amal, dakwah dan sabar, jika ia tidak bergulat dalam aktivitas keilmuan.

Qawiyyul Jismi 
Seberapapun hebat ruhiyah dan akal kita, tak akan bermakna jika jazad kita lemah. Apalagi, Mukmin yang kuat, lebih dicintai Allah daripada Mukmin yang lemah.

Mujahidun Linafsihi
Bersungguh-sungguh terhadap diri sendiri adalah kunci keberhasilan seseorang dalam menjalankan misinya. Karena Rasul bersabda, Hujibbatinnaaru bisy-syahawaati, wahujibatil jannatu bil makaarihi Neraka tertutup oleh berbagai syahwat-hawa nafsu, dan surga tertutup oleh berbagai kesukaran.

Munazhzhom Fi Syu’nihi
Keteraturan dalam beraktivitas juga merupakan poin penting, karena seorang Muslim harus memiliki jadwal yang terplanning dengan baik.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang akan diperbuatnya di hari esok...” (QS. Al-Hasyr: 18).

Harishun ‘Ala Waqtihi
Menurut Hasan Al-Bana, waktu adalah kehidupan itu sendiri. Sedangkan menurut para ulama salaf, waktu adalah pedang. Jika ingin mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, seorang muslim harus bisa menjaga waktunya, karena setiap detik yang kita lewati, kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

Nafi’un Lighairihi
Khairunnaas anfa’uhum linnaas. Sebaik-baik orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Bagi seorang perindu surga, menjadi pelayan ummat yang ikhlas semata karena Allah, adalah puncak kebahagiaan selama hidup di dunia.

BAGAIMANA DENGAN MUSLIMAH
Pada prinsipnya, Muslimah memiliki beberapa peranan penting, yaitu sebagai seorang ibu, seorang istri, dan seorang da’iyah. Ketiga peran tersebut, akan membuat seorang muslimah tegak eksistensinya di muka bumi ini, yang kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Inilah yang disebut dengan ad-dunya mata’, wa khairu mata’iha al mar’atush-sholihah.

Namun, tentu saja peran-peran tersebut, jika tidak dilandasi dengan 10 sifat di atas yang kokoh, dipastikan tidak akan bisa dilaksanakan dengan baik. Wallahu a’lam bishawab.

More aboutMenjadi Perempuan Paling Berbahagia

Belilah Kesulitanmu Dengan Sedekah

Diposting oleh Unknown

Kita telah membahas keutamaan sedekah, di mana sedekah dianalogikan sebagai benih yang berbiak. Dalam artikel "Indahnya Bersedekah" disebutkan bahwa setiap benih akan berbiak menjadi tujuh bulir, setiap bulir seratus. Jadi, keuntungan yang dijanjikan Allah adalah 7 x 100 atau 700 kali lipat. Jika Anda seorang pengusaha, siapa yang tak akan kepincut atas sebuah perniagaan yang jelas-jelas akan melipatgandakan keuntungan hingga 700 kali!

Saudara-saudari sekalian, sebagai seorang muslim, sungguh kita telah diwanti-wanti untuk banyak-banyak bersedekah. Sedekah inilah yang akan memicu berkah pada rezeki yang diberikan Allah kepada kita. Bahkan, sedekah inilah yang sesungguhnya akan mengurai kesulitan-kesulitan dalam hidup kita. Rasulullah SAW menganjurkan kepada umatnya untuk memperbanyak sedekah. Kata salafush-shalih, ”Belilah semua kesulitanmu dengan sedekah.” Ini menunjukkan, bahwa dengan memperbanyak sedekah, maka sesungguhnya kita sedang mencoba mengatasi kesulitan yang membelit kita.

Mengapa sedekah bisa mengurai kesulitan hidup kita? Antara lain karena ibarat sebuah umpan yang kita kaitkan pada mata kail, sedekah akan memancing datangnya rezeki. Ali bin Abi Thalib r.a. menyatakan dalam sebuah atsarnya,”Pancinglah rezeki dengan sedekah.” Di  atas disebutkan bahwa, harta yang kita infakkan bisa memicu keuntungan hingga 700 kali lipat!

Maka, Ustadz Yusuf Mansyur, yang sering disebut sebagai Ustadz Sedekah, pernah dengan sedikit bergurau mengatakan, jika kita ingin membeli mobil senilai X, maka cobalah kita bersedekah senilai Y dan dikalikan 700 kali. Wallahu a’lam!

Sedekah juga disebutkan Rasulullah dapat menyembuhkan penyakit. Dalam sebuah hadist disebutkan, “Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yg paling ringan (diantara bencana itu) adalah penyakit kusta dan lepra.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir).

Demikian juga sabda Rasulullah SAW yang lain, “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalanganmu) dengan bersedekah dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (H.R. Ath-Thabrani).

Subhanallah, jika sedemikian banyak keutamaan orang bersedekah, mengapa kita tak menjadi satu dari orang-orang yang hobi bahkan keranjingan bersedekah?

More aboutBelilah Kesulitanmu Dengan Sedekah

Indahnya Bersedekah…

Diposting oleh Unknown

Kisah-kisah yang terjadi di zaman Rasulullah SAW, yang melibatkan para istrinya selalu menarik untuk ditelaah. Seperti kisah ini....

Syahdan pada suatu hari, Rasulullah memerintahkan istri beliau tercinta, Aisyah, untuk memasak daging dari seekor kambing yang beliau sembelih. Rasulullah juga berpesan untuk membagikan masakannya tersebut kepada para tetangga. Selang beberapa waktu, Rasulullah pun berkata kepada Aisyah. “Apakah telah engkau bagikan daging kambing itu kepada para tetangga?”

Aisyah menjawab: “Sudah, ya Rasul. Tinggal pahanya saja!” Beliau berkata: “Aisyah, pahanya yang habis, sedangkan yang tinggal adalah yang telah Kau bagikan!”

Apa maksud dari perkataan Rasulullah? Ya, sesungguhnya, yang habis itu adalah yang kita manfaatkan untuk kita sendiri. Pada kasus di atas, paha yang disisakan Aisyah untuk Rasulullah, itulah yang nantinya akan habis, karena setelah disantap Rasul, maka ia akan menjelma menjadi kotoran belaka. Adapun bagian yang disedekahkan, itulah yang tak akan pernah habis, karena pahala akan mengalir terus kepadanya, bahkan sampai ketika jasad kita terkubur berkalang tanah.

Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW telah bersabda, “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).

Menurut para ulama, yang disebut dengan sedekah jariyyah adalah wakaf, yakni menghibahkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan kekal zatnya untuk dimanfaatkan dengan kemaslahatan sesama, dan sebagai bentuk (taqarrub) pendekatan diri terhadap Allah. Ini sesuai dengan firman Allah, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali ‘Imran, ayat 92).

Subhanallah! Seringkali kita memang salah kaprah. Ketika kita memiliki uang sebesar satu juta rupiah, lalu kita menginfakkan sebesar sepuluh ribu, maka kita mengira bahwa yang sepuluh ribu itulah yang hilang. Maka, kita merasa lega, “Ah, yang hilang toh hanya sepuluh ribu. Saya masih mengantongi sebesar sembilan ratus sembilan puluh ribu.” Lalu, dengan antusias, kita akan membelanjakan sisanya, misalnya makan di restoran mewah, membeli beberapa perhiasan indah, atau pakaian-pakaian berwarna cerah.

Tunggu dulu! Mari kita lihat, apa yang akan terjadi dengan uang Rp 990.000 itu! Makanan yang kita santap di restoran, mungkin akan menjadi daging. Tetapi, sebagian berubah menjadi kotoran yang kita buang. Tak mungkin kita tahan, karena memandang saja, kita telah merasa jijik. Jika kotoran itu berada di perut kita dan tak mau keluar, bahkan akan menjadi penyakit. Pun yang berubah menjadi daging, tatkala jasad kita hancur di bawah timbunan tanah, daging itu pun akan membusuk, menjadi makanan belatung dan bakteri pengurai.

Sementara, bagaimana dengan sepatu yang kita beli itu? Saat pertama memakai, sepertinya kita memang merasa gaya dan mulia. Tetapi, akan ada saatnya sepatu itu rusak, lalu tergeletak menjadi sampah. Demikian juga pakaian yang kita beli. Semua akan musnah. Semua akan habis.
Sementara, sepuluh ribu yang kita infakkan di jalan Allah, ia akan berkembang biak, berlipat-lipat, dan kelak akan mampu meringankan siksa kita di neraka. Sesungguhnya, justru harta inilah yang akan senantiasa abadi.

Jika demikian adanya, tentu kita akan berpikir, mengapa kita justru memperbanyak jatah dari harta kita yang mengarah pada kemusnahan? Jika kita rela berinvestasi untuk proyek-proyek duniawi, mengapa kita tidak ‘rakus’ untuk berinvestasi dalam masalah akhirat?

Anda ingin tahu, apa yang dijanjikan Allah atas ‘investasi akhirat’ ini?

 “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).

Setiap benih tujuh bulir, setiap bulir seratus. Jadi, keuntungan yang dijanjikan Allah adalah 7 x 100 atau 700 kali lipat. Jika Anda seorang pengusaha, siapa yang tak akan kepincut atas sebuah perniagaan yang jelas-jelas akan melipatgandakan keuntungan hingga 700 kali!

Jadi, mengapa tak juga bersedekah?

Ditulis oleh Afifah Afra

More aboutIndahnya Bersedekah…