Syahdan pada suatu hari, Rasulullah memerintahkan istri beliau tercinta, Aisyah, untuk memasak daging dari seekor kambing yang beliau sembelih. Rasulullah juga berpesan untuk membagikan masakannya tersebut kepada para tetangga. Selang beberapa waktu, Rasulullah pun berkata kepada Aisyah. “Apakah telah engkau bagikan daging kambing itu kepada para tetangga?”
Aisyah menjawab: “Sudah, ya Rasul. Tinggal pahanya saja!” Beliau berkata: “Aisyah, pahanya yang habis, sedangkan yang tinggal adalah yang telah Kau bagikan!”
Apa maksud dari perkataan Rasulullah? Ya, sesungguhnya, yang habis itu adalah yang kita manfaatkan untuk kita sendiri. Pada kasus di atas, paha yang disisakan Aisyah untuk Rasulullah, itulah yang nantinya akan habis, karena setelah disantap Rasul, maka ia akan menjelma menjadi kotoran belaka. Adapun bagian yang disedekahkan, itulah yang tak akan pernah habis, karena pahala akan mengalir terus kepadanya, bahkan sampai ketika jasad kita terkubur berkalang tanah.
Dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW telah bersabda, “Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang berdoa kepadanya.'' (HR Muslim).
Menurut para ulama, yang disebut dengan sedekah jariyyah adalah wakaf, yakni menghibahkan sesuatu yang bisa dimanfaatkan dan kekal zatnya untuk dimanfaatkan dengan kemaslahatan sesama, dan sebagai bentuk (taqarrub) pendekatan diri terhadap Allah. Ini sesuai dengan firman Allah, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS. Ali ‘Imran, ayat 92).
Subhanallah! Seringkali kita memang salah kaprah. Ketika kita memiliki uang sebesar satu juta rupiah, lalu kita menginfakkan sebesar sepuluh ribu, maka kita mengira bahwa yang sepuluh ribu itulah yang hilang. Maka, kita merasa lega, “Ah, yang hilang toh hanya sepuluh ribu. Saya masih mengantongi sebesar sembilan ratus sembilan puluh ribu.” Lalu, dengan antusias, kita akan membelanjakan sisanya, misalnya makan di restoran mewah, membeli beberapa perhiasan indah, atau pakaian-pakaian berwarna cerah.
Tunggu dulu! Mari kita lihat, apa yang akan terjadi dengan uang Rp 990.000 itu! Makanan yang kita santap di restoran, mungkin akan menjadi daging. Tetapi, sebagian berubah menjadi kotoran yang kita buang. Tak mungkin kita tahan, karena memandang saja, kita telah merasa jijik. Jika kotoran itu berada di perut kita dan tak mau keluar, bahkan akan menjadi penyakit. Pun yang berubah menjadi daging, tatkala jasad kita hancur di bawah timbunan tanah, daging itu pun akan membusuk, menjadi makanan belatung dan bakteri pengurai.
Sementara, bagaimana dengan sepatu yang kita beli itu? Saat pertama memakai, sepertinya kita memang merasa gaya dan mulia. Tetapi, akan ada saatnya sepatu itu rusak, lalu tergeletak menjadi sampah. Demikian juga pakaian yang kita beli. Semua akan musnah. Semua akan habis.
Sementara, sepuluh ribu yang kita infakkan di jalan Allah, ia akan berkembang biak, berlipat-lipat, dan kelak akan mampu meringankan siksa kita di neraka. Sesungguhnya, justru harta inilah yang akan senantiasa abadi.
Jika demikian adanya, tentu kita akan berpikir, mengapa kita justru memperbanyak jatah dari harta kita yang mengarah pada kemusnahan? Jika kita rela berinvestasi untuk proyek-proyek duniawi, mengapa kita tidak ‘rakus’ untuk berinvestasi dalam masalah akhirat?
Anda ingin tahu, apa yang dijanjikan Allah atas ‘investasi akhirat’ ini?
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Mahamengetahui.” (QS. Al Baqarah: 261).
Setiap benih tujuh bulir, setiap bulir seratus. Jadi, keuntungan yang dijanjikan Allah adalah 7 x 100 atau 700 kali lipat. Jika Anda seorang pengusaha, siapa yang tak akan kepincut atas sebuah perniagaan yang jelas-jelas akan melipatgandakan keuntungan hingga 700 kali!
Jadi, mengapa tak juga bersedekah?
Ditulis oleh Afifah Afra





{ 1 komentar... read them below or add one }
wow!!!!
Posting Komentar